Thursday, August 29, 2013

Pengertian Takhrij al-Hadits dan Metode Takhrij Hadits


Tahrij al-Hadis        
1)         Pengertian Takhrij al-Hadits
Secara bahasa takhrij berarti penyatuan dua hal yang saling bertentangan. Selain itu takhrij juga bisa memiliki arti sama dengan al-istinbath, al-tadrib, dan al-taujih. Maknanya juga bisa dari makna al-ikhraj yang sama dengan al-ibraz dan al-idzhar. Adapun secara terminology ilmu hadits takhrij adalah menunjukkan keberadaan suatu hadits di dalam kitab-kitab yang merupakan sumber utama hadits dengan mencantumkan sanad, kemudian menjelaskan
tingkatan-tingkatanya ketika dibutuhkan.
2)         Beberapa Metode Takhrij al-Hadits
Untuk men-takhrij suatu hadits kita bisa menggunakan paling tidak lima macam metode. Secara global metode-metode sebagai berikut:
a.         Takhrij al-Hadits  dengan cara memastikan terlebih dahulubrawi suatu hadits yang dari kalangan Shahabat. Metode ini bisa kita gunakan untuk Takhrij al-Hadits  jika terdapat nama shahabat di dalam hadits yang akan menjadi objek takhrij kita. Kemudian berdasarkan nama shahabat tadi kita bisa lebih mudah melakukan takhrij dengan tiga kitab yaitu al-Masanid (kitab-kitab sanad hadist), al-Ma’ajim (kamus-kamus hadits), dan Kutub al-Athraf (kitab-kitab hadits penggalan).
b.         Takhrij al-Hadits dengan cara mengetahui kata yang pertama dalam matan suatu hadits. Kita bisa memakai metode ini untuk takhrij al-hadits jika kita telah menemukan kata yang pertama disebut di dalam suatu hadits. Penggunaan metode ini akan lebih mudah dengan bantuan kitab-kitab hadits yag memuat hadits-hadits terkenal, kitab-kitab hadits yang tertulis urut berdasarkan abjad, dan kitab-kitab pengantar hadits.
c.         Takhrij al-Hadits  dengan cara mengetahui kalimat yang jarang terucap di dalam bagian matan suatu hadits. Kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadli al-Hadits al-Nabawi adalah kitab yang bisa kita gunakan untuk takhrij al-hadits dengan metode ini.
d.         Takhrij al-Hadits  dengan cara mengetahui terlebih dahulu tema suatu hadits. Metode ini merupakan metode yang cukup rumit dalam takhrij al-hadits. Untuk menerapkanya kita dituntut untuk memiliki olah rasa batin (dzauq) yang kuat, karena tanpaya kita akan kesulitan menentukan tema suatu hadits. Meskipun demikian, ada beberapa model kitab kontemporer yang cukup bisa membantu kita dalam takhrij al-hadits  dengan metode ini, yaitu antara lain:
1.         Kitab-kitab yang bab dan temanya memuat seluruh urusan agama. Beberapa diantaranya ialah kitab al-Jawami, al-Mustakhraj wa al-Mustadrakat ‘ala al-Jawami, al-Zawaid, dan kitab Miftahu kunuzi al-Sunah.
2.         Kitab-kitab yang bab dan temanya memuat sejumlah besar masalah agama. Kitab-kitab tersebut antara lain al-Sunan, al-Mushthalahat, al-Muwatha’at, dan al-Mustakhrajat al al-Sunan.
3.         Kitab-kitab yang khusus memuat satu permasalahan agama, seperti kitab al-Ajza’, al-Targhib wa al-Tarhib, dan lain-lain.
e.         Takhrij al-Hadits  dengan cara melihat hal-hal khusus dalam matan dan sanad suatu hadits. Metode ini dapat kta terapkan setelah kita mendalami sifat-sifat tertentu yang terdapat di dalam matan atau sanad suatu hadits. Pada tataran selanjutnya kita harus mencari rujukan tentang sifat-sifat itu di dalam kitab-kitab yang memuatnya pada matan atau sanadnya.
Terkait takhrij al-hadits dengan metode ini, jika sifat-sifat khusus tersebut terdapat dalam suatu hadits kita bisa merujuk pada kitab al-Maudhu’at al-Sughra karya Syaikh Ali al-Qariy al-Harawiy (1014 H). Selain itu kita juga bisa merujuk pada kitab Tanzih al-Syariat al-Marfu’ah ‘an al-Ahadits al-Syani’ah al-Maudhu’ah karya Abi al-Hasan Ali al-Kannaniy. Jika matan tersebut terdapat di dalam hadits qudsi kita bisa menggunakan kitab Misykat al-Anwar fi-Ma Ruwiya ‘an Allah SWT karya Muhyidin Muhamad al-Andalusi (638 H), atau kItab al-Ittihafat al-Saniyah bi al-Ahadits al-Qudsiyah karya Syaikh Abdurrauf al-Munawi (1031 H). Adapun jika tersebut di dalam sanad, maka kita bisa merujuk kitab Riwayat al-Aba’ ‘an al-Abna’ kaya Abu Bakar al-Baghdadi (463 H), dalam kitab al-Musalsalat al-Kubra karya al-Suyuti, dan kitab al-Marasil karya Ibnu Abi Hatim Abdurrahman  al-Razi (327 H). Dan jika sifat khusus tersebut di dalam matan sekaligus sanad, maka kita bisa merujuk kitab ‘Ilal al-Hadits karya Ibnu Abi Hatim al-Razi, al-Asma al-Mubhamah fi al-Anba’ al-Muhkamah karya Khatib al-Baghdadi dan lain-lain.
belajar komputer
belajar komputer
Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di samping. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.
Judul: Pengertian Takhrij al-Hadits dan Metode Takhrij Hadits; Ditulis oleh Unknown; Rating Blog: 5 dari 5

No comments:

Post a Comment